.

selamat datang, welcome, benvenuto, willkommen, accueil, bienvenida , ترحيب

Sabtu, November 07, 2009

Beauty in Peril


Indonesia was rich in marine resources with about 75% of the country consisting of coastal waters and open seas. It is an archipelagic nation with 3.1 million square kilometers of teritorial waters and 2.7 million square kilometers of Exclusive Economic Zone [EEZ]. The seas of Indonesia abounded with aquatic life, and its picturesque coral reefs were home to 42,000 square kilometers of coral reefs or 16.4 percent of the world's total, ranking it second only to australia in terms of coral reef area.



Indonesia is also at the heart of the world's "Coral Triangle", so called because of its very high diversity of more than 70 genera and 450 species of corals. The Coral Triangle comprises six nations, namely, Malaysia, Philippines, Indonesia, Timor Leste, Papua New Guinea, and Solomon Islands. Its unique position places the coral reef of Indonesia as extremely important regionally because of their role not only in the lives of Indonesians but also in the lives of other peoples in the region as well. Coral reefs, are sources of important pharmaceutical ingredients. They also absorb carbon dioxide from the athmosphere; so their part in helping to adress global warming should not be underestimated.

Jumat, November 06, 2009

Test Online

YA TUHAN

Maafkanlah apa yang telah anakMu ini lakukan. Sadisnya cara gua untuk mendapat nilai fisika. Akhirnya cara kramat itu terpakai juga untuk mengerjakannya. (tapi kan bukan salah gua juga). Lagian gurunya juga terlalu berilmu sekali. Sampai sampai ngerjain soal aja secara online.. sadis.

Emang sih, semaleman gua ga belajar sama sekali. (temen temen gua pasti juga juga kagak. hahah) soal yang gua ma temen temen sekelas gua kerjain itu cukup bikin kita kita ini menciut. Akan jadi apa nanti pas UN.
Brrrr, jadi merinding.

Smoga aja ada keajaiban buat gua biar bisa semangat buat belajar untuk ke depannya. biar nanti pas UN gua bisa ngerjain. Amen

National Geographic. Bacaan yang Menurut Gua Cukup Berbobot.




Yayasan National Geographic didirikan di Amerika Serikat pada tanggal 27 Januari 1888 oleh 33 orang yang tertarik meningkatkan pengetahuan geografi mereka. Gardiner Greene Hubbard menjadi presiden pertama dan kemudian digantikan oleh menantunya, Alexander Graham Bell. Yayasan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang geografi dunia dan pada akhirnya mensponsori penerbitan majalah bulanan National Geographic.
National Geographic saat ini telah terbit di 60 negara dalam 30 bahasa dengan oplah lebih dari 9,5 juta eksemplar per bulan.

National Geographic Indonesia
National Geographic Indonesia diresmikan pada tanggal 28 Maret 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disaksikan oleh pimpinan Kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama. Majalah ini pertama kali diterbitkan pada bulan April 2005 oleh Gramedia Majalah.

* Fotografi Laut Dalam

Sebelum resmi diluncurkan, National Geographic Indonesia mengadakan presentasi dan diskusi foto bertema Fotografi Laut Dalam bersama Emory Kristof, fotografer National Geographic pada tanggal 24 Januari 2005. Kegiatan ini lalu dilanjutkan dengan pameran rangkaian foto karya Emory di Gedung Arsip Nasional.

* Pameran Arkeologi

Usai peresmian di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, National Geographic Indonesia mengadakan pameran arkeologi Indonesia. Acara yang digelar pada 29 Maret-3 April 2005 diakhiri dengan presentasi dan pemutaran film orang kerdil (Homo floresiensis) dari Flores, Nusa Tenggara Timur oleh tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

* Pameran Foto Cheng Ho

National Geographic Indonesia turut ambil bagian dalam Peringatan 600 Tahun Perjalanan Laksamana Cheng Ho yang dipusatkan di Semarang, Jawa Tengah. Selama lima hari, 3–7 Agustus 2005, diadakan Pameran Foto Cheng Ho karya Michael Yamashita, fotografer National Geographic yang mendapat penugasan untuk membuat foto napak tilas sang laksamana yang digelar di PPRP Semarang.

Pada tanggal 4 Agustus 2005 malam, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Marie Elka Pangestu, berkesempatan membuka dan menyapa sang fotografer yang kebetulan tengah singgah dalam rangka penelusuran jejak sejarah Cheng Ho bersama awak National Geographic Television. Selepas pembukaan, Mike menampilkan presentasi fotografi yang diikuti dengan antusisas oleh ratusan anggota National Geographic Society di Indonesia.

Melanjutkan sukses serupa di Bangka dan Semarang, pameran foto liputan Cheng Ho dilanjutkan ke Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. Setelah itu, pameran diboyong ke Jakarta, Surabaya, dan Medan.

* Penelitian Orang Pendek di Kerinci

Sejak 22 September 2005, Dr. Peter U Tse, penerima hibah Expedition Council National Geographic Society, melakukan penelitian tentang orang kerdil di Kerinci, Jambi selama dua tahun. Bersama timnya, Dr. Tse memasang kamera perangkap dalam rangkaian penelitian untuk membuktikan keberadaaan misteri yang belum juga terkuak hingga kini. Pada hari pertamanya di Sungaipenuh, Dr. Tse dan tim, yang diikuti pula National Geographic Indonesia, mendapat sambutan hangat dari Bupati Kerinci, H. Fauzi Siin.

* Teleskop Antariksa Spitzer

Menyambut liputan keunggulan Teleskop Antariksa Spitzer, National Geographic Indonesia menggelar presentasi di planetarium dan observatorium milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 17 Desember 2005. Bambang Hidayat, salah seorang dewan pakar majalah ini, dan Widya Sawitar dari planetarium mengajak 500 pendaftar terawal dari anggota National Geographic Society untuk mendalami teleskop yang mengungkap tempat kelahiran bintang-bintang.

* Rock Art Exhibition 2006

National Geographic Indonesia membuka mata masyarakat Indonesia dengan gelaran Rock Art Exhibition 2006. Acara di awal tahun 2006 ini digelar di tiga kota, Jakata, Balikpapan, dan Sangatta, Kalimantan Timur. Acara ini didukung penuh oleh PT Kaltim Prima Coal serta dibantu oleh beberapa institusi, seperti Balai Arkeologi Kalimantan, Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI), Le Kalimantanthrope, dan PP Seni Rupa Institut Teknologi Bandung.

Siapa Saya?

Salam Kenal!

Nama gua Dhito. Umur gua masih 17 tahun, jadi masih terbilang muda lah. Hohoho.
Kagiatan Sehari-hari gua saat ini sih masih sekolah sekolah dan sekolah. Saat ini gua masi duduk di bangku SMA kelas 3 jurusan IPA ynag merepotkan hidup gua untuk saat ini. Tapi bentar lagi juga udah bakalan lulus (Amin).

Ini biografi singkat gua bagi yang butuh. Haha
Dengan nama lengkapnya Antonius Ardhito, ia pernah bersekolah di :
TK Harapan Bunda, Jakarta
SDK Harapan Bunda, Jakarta
SMPK Harapan Bunda, Jakarta
(Dari TK sampe SMP gua skolah di satu tempat yang sama, tapi sepertinya gua udah lupa angkatan tahun brapa pas gua disana. Maklum, otak udah kepenuhan sama rumus rumus yang dipaksa masuk. :P)
dan Sekarang bersekolah di SMAN 53, Jakarta
Moga-moga selanjutnya bisa meneruskan kuliah di IPB, Bogor.
Oh iya, 1 lagi. Yang kata temen temen gua hal paling bisa gua banggain cuman pangkat gua sebagai "DUTA KARANG NASIONAL". Sialan juga sih yang ngomong kaya gitu. tapi gapapa lah.

Awalnya sih gua kaga niat buat blog kaya gini. mnurut gua sih kaga guna (dengan moto hidup gua yang simple) hehehe. Tapi, pas kemarin tanggal 31 Oktober 2009 ada workshop antara DK bareng ma FDI., gua jadi tahu kalo berbloging itu banyak gunanya.
Alasan pertama, Jaga jaga buat travelling yang akan datang. Amin
Alasan kedua, punya banyak temen
Alasan ketiga, kan bisa saling berbagi informasi dan pengalaman hidup.

Selanjutnya, Dalam hidup gua ini, gua suka Manga (terutama Final Fantasy), Choir (walau selalu jadi suara 4/ bass), dan Dunia Bawah Laut.

Mengenai cita-cita, gua pengennya hidup gua ini bisa sukses (amin), wlaupun dari bawah juga gapapa. Toh emang harus kaya gitu, biar kalo jatoh nggak sakit sakit amat.
Awalnya sih gua pengen jadi Arsitek, tapi kok jadi berpaling ke bidang Kelautan ya? gua juga kaga ngerti. 1 lagi gua juga pengen jadi fotografer.




                                                              ( Pasir Putih, Probolinggo)

Jadi pada intinya, yang memiliki banyak kesamaan dengan diri gua, mari kita berteman. -.-a